Salah Memahami Hijrah
Catatan Hijrah

Hijrah secara syara’ artinya meninggalkan sesuatu yang dibenci Allah menunju hal yang dicintai Allah dan diridhai-Nya. Termasuk ke dalam hal ini adalah berhijrah dari tempat yang ghalib (umumnya) syirik atau syi’ar-syi’ar kekufuran merajalela di sana menuju negeri Islam (negeri dimana syi’ar Islam tampak seperti azan, shalat berjamaah, shalat Jum’at, dan shalat hari raya).


Sebagian orang, di saat melihat kondisi masyarakat jauh dari ajaran Islam, ia pun berhijrah dan berpindah-pindah. Sebenarnya menghadapi kondisi seperti ini adalah dengan mendakwahkan mereka jika ia memiliki ilmu atau memanggil seorang ‘alim untuk berdakwah di tempatnya, namun jika ia tidak memiliki ilmu dan mengkhawatirkan dirinya terfitnah oleh kondisi seperti itu, tidak mengapa ia berpindah jika mampu berhijrah.


Imam Nawawi setelah membuat bab tentang keutamaan ‘uzlah (mengasingkan diri) di saat masyarakat telah rusak dan ia khawatir terfitnah (terbawa), membuat bab lagi di kitabnya Riyadhus Shalihin tentang keutamaan bergaul dengan orang lain dengan sikap sabar dan tetap menjaga amr ma’ruf-nahi mungkar,


Bab tentang keutamaan bergaul dengan orang lain, ikut menghadiri shalat Jum’at dan jamaah serta musim-musim kebaikan, keutamaan menghadiri majlis ilmu bersama mereka, menjenguk orang yang sakit, menghadiri jenazahnya, membantu orang yang butuh, membimbing orang yang tidak mengerti, dan sebagainya bagi orang yang sekiranya mampu beramar ma’ruf dan bernahi munkar, mampu menahan dirinya dari mengganggu orang lain, dan mampu bersabar terhadap gangguan.


Beliau juga berkata, “Ketahuilah, bahwa bergaul dengan manusia seperti yang saya sebutkan inilah yang terpilih, dan ini pula yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para nabi shalawatullah wa salaamuhu ‘alaihim, juga para khulafaur raasyidin, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan para sahabat, tabi’in, ulama kaum muslimin setelah mereka dan orang-orang pilihan. Ini pula madzhab kebanyakan tabi’in dan orang-orang setelah mereka, dan ini pula yang dipegang oleh Imam Syafi’i, Ahmad serta kebanyakan para fuqaha’ (Ahli Fiqih) radhiyallahu 'anhum ajma’iin. Allah Ta’ala berfirman,


“Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al Maa’idah: 2)


Ayat lain yang semakna dengan maksud yang saya sebutkan banyak dan sudah maklum.”


Ada juga yang melakukan hijrah karena menyangka bahwa negerinya adalah negeri kafir!


Perlu diketahui bahwa negeri kafir adalah negeri dimana kemusyrikanatau syi’ar kekufuran tampak di mana-mana, dan tidak dapat ditegakkan syi’ar-syi’ar Islam yang sifatnya menyeluruh seperti azan, shalat berjamaah, hari raya dan shalat Jum’at (misalnya karena dilarang). Jika keadaan negeri kita seperti ini, maka kita diwajibkan berhijrah ke negeri Islam agar dapat menjalankan ajaran Islam ketika kita mampu berhijrah (lihat QS. An Nisaa’: 97).


Jika kita tidak mampu, maka hal ini dimaafkan Allah, karena Allah tidak membebani kecuali sesuai kemampuannya (lihat QS. An Nisaa’: 98).


Kita juga diperbolehkan tinggal di negeri kafir; jika bertujuan untuk dakwah. Namun jika tidak ada tujuan ini, maka ia wajib berhijrah.

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan