Hijrah dalam Dunia Kerja
Catatan Hijrah

Belakangan ini fenomena kampanye gerakan hijrah banyak dijumpai di sosial media terutama di kalangan anak muda. Mulai dari gerakan berhijab, shalat ke masjid, dan perubahan gaya hidup lainnya. Hingga fenomena artis-artis terkenal yang memilih meninggalkan gegap-gempita dunia hiburan dan memilih jalan hidup yang lebih sederhana dan sarat dengan ajaran agama.


Meski identik dengan Islam, sejatinya makna hijrah memiliki potensi arti yang lebih luas. Berasal dari Bahasa Arab, yang awalnya hadjara kemudian menjadi hijrah bisa diartikan meninggalkan tempat atau berpindah tempat. Sedangkan dalam kontek sejarah, hijrah identik dengan berpindahnya Nabi Muhammad SAW beserta kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah sebagai upaya menghindari tekanan kaum kafir Quraisy.


Di sisi lain, kosakata Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu banyak yang berasal dari Bahasa Arab. Sebagian kata-kata Arab ini masih utuh dalam arti yang sesuai antara lafal dan maknanya, dan ada sebagian lagi yang mengalami perubahan.


Dengan demikian, makna hijrah menjadi lebih luas lagi. Bukan sekadar berpindah tempat namun juga bermakna berpindah menuju kehidupan lebih baik, bermakna, dan indah.


Dalam konteks kehidupan sehari-hari, jika dikaitkan dalam peningkatan karir atau pengembangan diri, hijrah ini punya makna yang berlainan.


Hijrah dalam karir bukan hanya diartikan sekadar pindah tempat bekerja namun lebih kepada bagaimana kita memposisikan diri dalam karir tersebut.


Hijrah dalam karir adalah memberikan nilai lebih pada pekerjaan kita. Bukan sekadar bekerja untuk mendapat gaji, namun juga termasuk nilai tambah yang ada di dalamnya.


Seperti Hanafi, seorang auditor perbankan syariah yang berhenti kerja dari tempat lamanya. Berawal dari niatnya untuk meraih rezeki yang lebih berkah. Hanafi mendapat panggilan untuk membaktikan kemampuan dirinya bukan hanya kepada masyarakat tapi juga kepada agama.


Dia menggunakan kemampuan dan ilmu perbankan yang dimilikinya dalam mendukung perekonomian yang lebih sehat dan menjadi lebih syar’i. Tidak hanya menjadi seorang auditor perusahaan yang tanggung jawabnya hanya kepada pimpinan, namun tanggung jawab moral kepada agama.


Jadi, Sahabat Umma, tak perlu takut untuk kehilangan pekerjaan atau karir ketika hendak berniat hijrah. Insya Allah, Allah akan memberikan sesuatu yang lebih baik jika niat kita baik.

Untuk Kamu
Lihat 20 Artikel
Bagikan